Berwisata Secara Eco Friendly 2: Pertimbangan berwisata ke luar negeri

Bagaimana dengan pilihan dalam dan luar negeri? Indonesia, tidak usah disebut lagi, memiliki segalanya. Untuk wisata alam bebas, Indonesia sudah menjadi surga bagi para pelancong dunia. Banyak juga tempat yang tersembunyi bagi wisatawan lokal tapi malah sudah sangat terkenal bagi pelancong luar negeri. Spot-spot surfing yang

menantang misalnya. Karena itu, tidak heran ketika tsunami melanda Mentawai, yang datang menolong terlebih dulu justru orang Australia yang mengenal kepulauan itu karena ombak surfing-nya yang menawan. Demikian pula yang memiliki situs tentang gunung-gunung yang bisa dipanjat di Indonesia adalah seorang bule,  John Seach (www.volcano live.com).

Untuk wisata kota dan budaya, Indonesia pun tidak kekeringan sumber. Mungkin kebanyakan yang telah dieksploitasi dan dikembangkan berada di Pulau Jawa dan Bali. Tapi bukan berarti pulau-pulau lain tidak punya sumber wisata kota dan wisata budaya yang menarik.

Makassar misalnya, belakangan semakin membuka diri, mengombinasikan wisata modern Taman Rekreasi Transworld dengan semakin menjual wisata sejarah yang telah ada sedari dulu, yaitu Benteng Rotterdam.

Bicara soal wisata luar negeri, Asia Tenggara masih jadi pilihan karena faktor kedekatannya. Jarak dekat negara-negara Asia Tenggara relatif masih bisa ditempuh dengan alat transportasi selain pesawat udara. Misalnya kita bisa naik feri dari Batam atau tepatnya dari Jakarta kita bisa naik kapal laut ke Medan atau Batam, lalu dilanjutkan ke Singapura dengan feri. Demikian pula ke Malaysia (Pulau Penang) yang bisa ditempuh dengan feri dari Medan. Kalaupun pesawat udara menjadi pilihan, jam terbangnya tidak terlalu lama atau tidak membutuhkan

transit sehingga menghasilkan polusi relatif lebih sedikit.

Berkeliling Asia Tenggara pun sudah bisa dilakukan dengan layanan kereta api yang cukup nyaman. Singapura-Malaysia- Thailand telah terhubung dengan jalur rel dengan layanan kereta eksekutif, lengkap dengan gerbong tidur.  Dengan demikian, kita bisa memilih perjalanan yang lebih hijau namun tetap nyaman.

Soal pilihan tempat wisata, meskipun Asia Tenggara terkenal dengan wisata belanjanya, trek-trek hijau tetap

tersedia. Singapura sudah lama terkenal dengan Jurong Bird Park serta Night Safari-nya. Malaysia punya spot-spot diving yang bagus. Sementara Thailand punya berbagai atraksi gajah yang menarik, selain wisata alam yang cantik. Negara Asia Tenggara lain yang masih berkembang, seperti Laos, Kamboja, dan Vietnam justru menawarkan kemolekan alam yang masih jarang tersentuh tangan-tangan bisnis.

Eropa, Amerika, dan Australia-benua-benua “bule” selalu punya daya tarik tersendiri bagi orang Indonesia.

Dari semua, keindahan dan daya tarik yang bikin penasaran itu, harap diingat, perjalanan ke tempat-tempat tersebut sangat tidak hijau. Terbang berjam-jam bahkan ada kalanya sampai 24 jam dari Indonesia -tentu menghasilkan banyak polusi yang membahayakan Bumi. Bila punya waktu, bisa saja kita menjalani perjalanan itu dengan

cara hijau, misalnya naik kendaraan umum, terutama kereta api. Benua Asia terhubung ke Eropa dengan jalur kereta Trans Siberia yang memakan waktu satu minggu. Tapi bila tidak sempat berlama-lama naik kereta api untuk bermigrasi dari Asia ke Eropa, kita tetap bisa memilih untuk menggunakan kereta api saat berkeliling Eropa. Selain itu, kita tetap bisa menjadi wisatawan yang bertanggung jawab pada lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *